Reshuffle di antara politik, pasar, dan desakan publik

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan (kedua kiri), Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Menko Bidang Kemaritiman Rizal Ramli (kedua kanan), Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil (ketiga kiri), Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong (kiri), dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung (ketiga kanan), berfoto bersama seusai mengikuti acara pengucapan sumpah jabatan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015)
Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan (kedua kiri), Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Menko Bidang Kemaritiman Rizal Ramli (kedua kanan), Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil (ketiga kiri), Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong (kiri), dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung (ketiga kanan), berfoto bersama seusai mengikuti acara pengucapan sumpah jabatan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015)

Akhirnya bongkar pasang kabinet dilaksanakan Presiden Joko Widodo, Rabu (12/8/2015). Ada lima menteri dan sekretaris kabinet. Empat di antaranya menteri baru, satu menteri bergeser tempat , dan tiga menteri lengser.

Menteri baru: Darmin Nasution, menjabat Menko Perekonomian; Rizal Ramli di posisi Menko Kemaritiman; Thomas Lembong menjadi Menteri Perdagangan; dan Pramono Anung, menjadi Sekretaris Kabinet.

Yang bergeser posisi: Sofyan Djalil, dari Menko Perekonomian menjadi Kepala Bappenas. Sedang Luhut Binsar Pandjaitan dilantik menjadi Menko Politik Hukum dan Keamanan, merangkap sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Sedang Menko Polhukam, Tedjo Edhy Purdijatno; Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel; dan Menko Kemaritiman, Indroyono Soesilo, lengser.

Perombakan kabinet sudah dibicarakan para pengamat dan politisi sejak kabinet Jokowi-Jasuf Kalla enam bulan bekerja. Banyak survei menunjukkan sejumlah menteri tak terlihat kiprahnya, sehingga publik kurang puas atas kinerja Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK.

Menurut hasil survei Indo Barometer misalnya, dalam enam bulan kerja, masyarakat yang merasa cukup puas terhadap kinerja kabinet kerja, 57, 5 persen. Angka ini lebih rendah dibanding masa pemerintahan Presiden SBY yang mencapai 75 persen.

Political Communication Institute (Polcomm Institute) menemukan hal berbeda. Dalam surveinya lembaga ini menemukan selama enam bulan ada tujuh menteri yang kinerjanya kurang diketahui publik. Dalam hitungan prosentase di bawah 0,2 persen.

Sedang Poltracking Indonesia dalam surveinya mendapati 48,1 persen publik setuju dilakukan reshuffle.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebenarnya sudah lama secara diam-diam merencanakan perombakan kabinet. Menurut Tim Komunikasi Presiden, reshuffle ini dilakukan sebagai upaya memperbaiki kinerja pemerintah.

Karena terkait kinerja pemerintah, banyak pihak berharap dalam mengganti menteri, Jokowi mengabaikan pertimbangan politik dari partai pengusung maupun desakan publik. Pertimbangan utamanya, berdasarkan evaluasi kinerja para menteri.

Namun benarkah evaluasi kinerja menteri yang menjadi dasar reshuffle kabinet kali ini? Tak ada yang bisa memastikan. Saat pelantikan menteri baru, Jokowi tak memberikan alasan perombakan kabinet ini.

Namun dari nama-nama yang masuk kabinet, Jokowi seperti ingin mengakomodasi tiga kepentingan sekaligus: Perbaikan kinerja untuk kepentingan pasar, mengakomodasi kepentingan politik, sekaligus menjawab desakan publik.

Perbaikan kinerja antara lain dengan masuknya orang-orang nonparpol yang memiliki reputasi baik.

Darmin Nasution misalnya, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini adalah birokrat karir di Kementerian Keuangan. Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dua periode ini adalah salah satu ekonom yang paham pasar dan bisa diterima pasar.

Begitu pula dengan Rizal Ramli dan Thomas Trikasih Lembong.

Lengsernya Tedjo menjadi jawaban atas tekanan publik. Tedjo adalah salah sorang menteri yang dilaporkan masyarakat ke polisi akibat pernyataannya yang dinilai menghina masyarakat. Gerakan yang meminta Tedjo dicopot dari jabatannya juga sempat marak.

Sedang pertimbangan politik dalam reshuffle, tampak dari munculnya nama Pramono Anung sebagai Sekretaris Kabinet. Politisi PDIP seperti menjadi simbol perimbangan politik partai pendukung Jokowi di kabinet.

Bukan rahasia lagi, beberapa tokoh PDIP sering cemburu kepada NasDem. Pasalnya, PDIP yang menjadi partai asal Jokowi hanya kebagian tiga kursi menteri di Kabinet Kerja, yaitu: Mendagri, Tjahjo Kumolo; Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani; dan Menkum HAM, Yasonna Laoly.

Sedang NasDem malah mendapat empat kursi: Menko Polhukam, Tedjo Edhy Purdijatno; Menteri Agraria, Ferry Musryidan Baldan; Menteri Kehutanan dan Lingkungan, Siti Nurbaya; serta Jaksa Agung, HM Prasetyo.

Masuknya Pramono di kabinet menjadi perimbangan yang berarti dalam aspek politik. Baik posisi PDIP di antara partai Koalisi Indoesia Hebat (KIH), maupun perbaikan relasi politik PDIP dengan Jokowi.

Pramono, sejak awal pembentukan kabinet sudah meminta untuk duduk di salah satu posisi Seskab atau Mensesneg. Pertimbangannya, dua posisi itu perlu orang yang tak sekadar rapi dalam administrasi, namun juga punya lobi politik yang bagus ke semua partai. Pramono yang mantan Sekjen PDIP dan Wakil Ketua DPR memenuhi kriteria tersebut.

Namun Ketua Umum PDIP Megawati, tak memberikan restu untuk Pramono ketika dipinang Jokowi. Alasannya, PDIP masih membutuhkan Pramono untuk mengatasi tekanan Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR. Meski, banyak yang percaya tidak diizinkannya Pramono karena saat itu hubungan Megawati-Jokowi sedang renggang.

Megawati tak sepakat dengan sejumlah nama menteri yang dipilih Jokowi.

Karena itu, terpilihnya Pramono dalam kabinet menjadi tanda hubungan Jokowi dengan Megawati mulai membaik. Menyitir pernyataan Wakil Sekjen PDIP, Ahmad Basarah, dalam perombakan kabinet kali ini calon dari PDIP diusulkan oleh Ketua Umum.

Itu berarti nama Pramono Anung masuk kabinet bukan hanya keinginan Jokowi, tapi juga usulan Megawati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s