Bertetangga Dengan Makhluk Menyeramkan

penampakan kuntilanak
rumah kuntilanak

InfoKisahMisteri – Gimana rasanya kalau ada yang memberitahu kita, kalau tetangga depan rumah yang berupa
kebun/lahan kosong, ternyata banyak dihuni makhluk tak kasat mata.
Ini cerita dari Nina seorang remaja Indigo.

Kejadiannya sekitar 4 bulan yang lalu, saat itu dia bertemu dengan seseorang mantan warga
kampungnya yang sedang melayat di salah satu rumah warga yang sedang berduka.

Saat itu sekitar jam 8 malam setelah acara doa untuk arwah warga yang meninggal, Nina
keluar dari rumah itu untuk duduk di kursi yang sudah disediakan di luar rumah bersama
adiknya.

Tak berapa lama, ada seorang tamu yang datang, kita sebut saja namanya Om
Sapto (samaran), tersenyum dan mendatangi Nina sebentar sekedar bersalaman, lalu dia pun
masuk ke rumah duka untuk menemui keluarga yang sedang berduka dan berdoa di depan peti
jenasah.

Lima menit kemudian, Om Sapto keluar dari rumah itu dan langsung duduk di
sebelah Nina. Om Sapto ini adalah mantan warga kampung tersebut yang sudah setahun
yang lalu pindah di tempat lain.

Keluarga Om Sapto dan keluarga Nina cukup akrab, jadi Nina dan adiknya juga merasa
senang bisa bertemu lagi dengan beliau.
Mereka pun mengobrol dengan akrab.

Pada saat ngobrol itulah, Nina jadi ingat akan sesuatu hal yang selama ini ia ingin tanyakan
kepada Om Sapto, mengenai rumah yang sekarang di tempati keluarga Om Sapto.
Hanya saja karena jarang bertemu, makanya kesempatan ini digunakan oleh Nina untuk bertanya.

“Om, Kok bangun rumahnya di sana sih.Padahal tempatnya agak sepi dan tetangga
depan lahan kosong lagi.” Tanya Nina kepada Om Sapto.

“Ha..ha..ha.., yah gimana lagi mbak. Namanya juga warisan dari orang tua tantemu, kalau
mau beli tanah dan bangun rumah, Om sama tante pasti nggak mampulah, uangnya cuma
cukup untuk bangun rumah. Maunya sih punya tanah dan rumah di tempat yang agak masuk
kota. Lho memangnya kenapa, Mbak Nina?”

jawab Om Sapto agak heran dengan pertanyaan Nina.

Lalu Nina pun menceritakan hal yang dia lihat saat dia dan keluarganya diundang oleh Om
Sapto untuk acara doa pemberkatan rumah yang selesai dibangun, setahun yang lalu.

“Gini Om, khan depan rumah om itu lahan kosong. Nah saat aku parkirin sepeda motor di
halaman tetangga sebelah rumahnya Om itu, aku sempat melihat ada sosok tante Kunti
sedang duduk-duduk di dahan salah satu pohon mangga yang ada di lahan itu.

Sosok tante Kunti itu pakai bajunya merah.
Aku iseng-iseng saja tanya Kunti itu, tante lagi ngapain di situ?
Dan sosok itu menjawab, kalau rumahnya ya di pohon itu.”

Nina pun meneruskan ceritanya,

“Sosok itu katanya mengaku sudah lama di sana. Lalu
aku pun minta sama tante kuntilanak itu, supaya jangan mengganggu keluarga Om Sapto.
Dan sepertinya dia pun mengiakan permintaanku.
Katanya lho Om, dia malah senang lihatin anaknya Om, si Dewa (11 tahunan), katanya
sih senang dengarin ketawanya Dewa, menurutnya tertawanya Dewa kedengaran lucu saja baginya.”

“Aku juga lihat sepintas di lahan itu, ada macam-macam penghuni, kayak ada 2 sosok
pocong yang agak kecil dan tinggi, ada kayak beberapa anak kecil juga, ada sosok kepala
yang mengeluarkan api, dan juga ada seperti sosok kakek-kakek. Tapi cuma tante Kunti itu
yang bisa aku ajak komunikasi saat itu.” Kata Nina kepada Om Sapto.

Om Sapto sepertinya agak tercengang mendengarkan Nina. Dia Cuma menggeleng-
gelengkan kepala dan menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal.

“Weh, yang benar Mbak. Waduh kok seram-seram ya tetangga depanku? Tapi bagaimana
lagi ya, toh mereka juga sudah lama di sana.

Kalau mereka memang punya niat jahat sama keluargaku, mestinya dari dulu mereka usilin
keluargaku atau menakut-nakutin kami.

Nyatanya sampai sekarang juga tidak ada hal-hal aneh terjadi. Ya sudahlah, yang penting
sama-sama menghormati keberadaan satu dan yang lain sebagai sama-sama ciptaan Tuhan”

“Betul Om, yang penting tidak mengganggu,”kata Nina sepertinya
membenarkan ucapan Om Sapto.

“Eh sebentar-sebentar.(Lalu Om Sapto mengambil Hp dari saku jaketnya, dan
sepertinya mencari-cari sesuatu di Hp dan akhirnya menunjukkan satu foto di HP).

Ini lho mbak, aku sempat ambil foto sekitar jam 7 malam, waktu itu Om khan lagi bakar-bakar
rumput-rumput dan semak belukar bekas kerja bakti warga kampong di lahan itu beberapa
hari sebelumnya, biar nggak jadi sarang nyamuk atau binatang berbisa.

Nah om iseng-iseng saja foto rumput-rumput yang sedang terbakar agak jauhan. Tapi waktu om lihat
beberapa hari setelahnya, kayak ada yang aneh pas dekat nyala api kok kayak ada
bentuk bayangan orang berdiri di samping nyala api yang berkobar.
Padahal waktu itu Om cuma sendirian lho. Coba kamu perhatikan,”

kata Om Sapto sambil memperlihatkan hasil jepretan kamera Hp miliknya kepada Nina.

“O o, iya om itu bentuknya pocong tapi agak kecil, dibelakangnya rumput yang sedang
terbakar itu juga dekat sudut lahan ada kepala yang terbakar. Nah di depannya rumput yang
dibakar itu, yang ada pohonnya agak sedang besarnya, nah itu ada tante kunti yang
kuceritakan.

Tapi memang kalau di foto ini yang paling kelihatan ya pocong kecil itu yang
dekat jilatan api. Ini menurut penglihatanku lho om dari foto ini.” Kata Nina sambil tersenyum.

“Masih ada yang aneh lagi lho om. Waktu sedang doa khan diadakan di halaman rumah,
pakai tenda dan kursi. Nah saat sedang doa itu, aku kok mendengar ada suara seperti bola
plastic yang ditendang ke tembok di dalam rumah berkali-kali.

Awalnya kupikir Dewa lagi main-main bola di dalam,
tapi kayaknya juga nggak mungkin khan? Masak ada acara di
rumah, Dewa malah main-main. Aneh saja, kalau memang ada suara seperti itu, pasti yang
lain juga tahu, nyatanya semua tenang-tenang saja.”

Nina melanjutkan ceritanya,

“Di dalam rumah khan di pakai untuk menyiapkan makan dan
minum sama petugas catering. Mereka juga nggak mungkin seiseng itu. Lalu pas acara doa
selesai dan makan, nah saat di dalam rumah sambil antri ambil makanan, aku lihat ada satu
kamar yang agak terpisah dan pintunya tertutup.

Aku lalu coba focus, dan pintu dan dinding seperti jadi transparan,
di dalam kulihat ada beberapa sosok anak kecil sedang kumpul
di sana seperti main sepak bola, tapi setelah kulihat mereka lari keluar kamar itu kembali ke
arah kebun kosong itu. Kayaknya mereka memang sering main di kamar itu.”

“Oh itu dapur, Mbak.” Jawab Om Sapto,”Pantas, kalau bangun malam-malam,
lalu mau ambil minum saat lampu masih mati,

rasanya agak merinding juga, tapi pas lampu dapur dinyalakan yah tidak ada perasaan
merinding lagi.”

“Kalau di rumahku, apakah ada sosok penunggunya juga, mbak?” tanya beliau
sepertinya malah jadi penasaran sekali.

“Ada om, sosoknya seorang nenek-nenek. Beliau kadang di kamar mandi, kadang di teras
rumah sedang duduk atau berdiri di halaman rumah, tapi beliau bukan sosok Makhluk Gaib yang usil
atau jahat kok Om,” kata Nina.

“Oh syukurlah kalau begitu. Oke Om mau pamit dulu ya, sudah mau jam 10 malam nih, nanti
ditanyain tante kok lama sekali perginya.

Sudah ya om mau pamitan sama tuan rumah dulu.” Om Sapto berdiri lalu mengusap-usap
rambut Nina dan adiknya tanda sayang dan pergi menemui tuan rumah untuk bersalaman
kembali sekaligus berpamitan untuk pulang ke rumahnya.

Demikianlah cerita yang penulis dengar dari Nina, terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s