Maria Oentoe Sang Pengisi Suara Pemanggil Bioskop 21

kenalan-yuk-maria-oentoe-sang-pengisi-s-2a31df

InfosukaQQ – Tak banyak yang hapal sosok Maria Oentoe, wanita berperangai lembut yang kini sudah memasuki usia 66 tahun. Tetapi, hampir semua orang Indonesia pasti kenal dengan suaranya. Sebab, Maria adalah seorang voice actress (untuk dubbing dan voice over) yang telah melegenda di Indonesia. Nyaris tak terhitung iklan, film, dan program radio dan TV yang memakai suaranya sejak tahun 1970-an, sekarang pun suaranya tetap didengar sebagai penanda masuk di jaringan bioskop Cinema 21 sejak tahun 1987, yang selalu memanggil penonton untuk masuk ke ruang teater karena pintunya telah dibuka, atau filmnya telah dimulai.

Saat diundang ke kantor Muvila pekan lalu, Maria sukses membuat semua anggota redaksi terpukau lewat suara keibuannya yang legendaris itu. Beliau memang sudah tidak muda lagi, namun suaranya terdengar sangat prima, berat namun bening, seolah-olah tak pernah berubah sejak berdekade-dekade lalu. “Sempat saya ditanya, ‘Wah, kok masih sama suaranya seperti dulu.’ Ya bagaimana mau dibedain, suaranya memang begini,” ujar Maria sembari tertawa.

Sebagai seorang seniman yang mengandalkan suara untuk berkarya, Maria memang mengaku menjaga suaranya, namun tidak ada metode khusus untuk itu. “Saya minum air putih saja, tidak ada yang lain. Tapi kalau jeruk sekali-sekali boleh. Tidak minumm kopi, tidak minum teh. Nggak tahu ya, saya sukanya ya memang air putih saja. Karena itu melegakan tenggorokan,” ungkapnya.

miris-isi-suara-hampir-30-tahun-maria-o-b109af

Karier Maria yang begitu panjang dimulai dari masa remaja di era 1960-an, ketika ia bergabung di Sanggar Prathivi, sebuah studio yang bergerak di bidang penyiaran. Di sana, Maria dilatih berbagai macam teknik seni suara, mulai dari voice over untuk iklan (radio) dan company profile, hingga sandiwara radio. Ia juga sempat jadi penyiar di radio Sonora dan Antar Nusa di Jakarta. Namun, kegiatan utamanya tetaplah di Prathivi. Lewat Prathivi pula, Maria mendapat kesempatan untuk melebarkan sayap ke dunia TV. Ia terlibat dalam program mimbar agama di TVRI, termasuk berakting dalam fragmen-fragmen cerita di dalamnya.

“Di sanggar Prathivi itu ada mimbar agama Katolik. Saya berawal dari situ, termasuk untuk televisi. Di situ orang-orang TV melihat saya mungkin bisa main di acara lain, awalnya dari situ. Setelah itu, ada yang ajak saya dubbing, mengisi suara untuk film,” ucapnya.

Tahun 1970-an sampai 1980-an, suara Maria menjadi high-demand, baik itu iklan radio, iklan TV, juga dubbing untuk film. Ia termasuk banyak terlibat dubbing untuk film-film terkenal, di antaranya Badai Pasti Berlalu (1977) dan November 1828 (1979), dua film garapan sutradara kenamaan, Teguh Karya. Pada era tersebut, pemain film di layar yang suaranya diisi oleh orang lain bukan hal aneh, berhubung secara teknis itu justru diperlukan.

“Dulu harus didubbing, karena alat untuk synchronizing gambar dan suara itu belum ada. Sekarang ini sudah bisa menyatu, jadi pemain filmnya sudah menyatu suaranya. Dan lebih hemat ya, dengan begitu akan lebih baik, lebih total,” ungkap Maria.

Namun, pada akhirnya tiba juga tawaran untuk Maria tampil di depan kamera, dimulai di era 1980-an. Maria mengaku transisi ini tak sulit, sebab ia sendiri sering berakting di drama TV. Salah satu kredit terawalnya sebagai pemeran adalah Bawalah Aku Pergi (1981). Akan tetapi, Maria memang lebih setia pada profesinya sebagai pengisi suara, baik untuk iklan, film, juga sulih suara. Ia memang tak merasa canggung saat masuk media audio visual, namun ia merasa tak sebebas saat hanya mengandalkan suara. Untuk berperan di media film dan TV, ia cenderung menerima peran yang lembut, seperti peran ibu-ibu.

Film-film yang menampilkan sosoknya pun sampai sekarang memang tidak banyak. Terakhir, ia bermain sebagai tokoh Oma Soen di film antikorupsi, Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014), juga di film pendek pemenang beberapa penghargaan Wan An (2012) karya Yandy Laurens, berpasangan dengan Henky Solaiman.

“Saya lebih senang yang tidak usah tampil muka. Lebih baik yang voice over, sandiwara radio, iklan. Saya suka iklan yang lembut, misalnya kosmetik, mungkin suara saya cocok untuk itu,” ucapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s