Benarkah Ada Emas Tersembunyi di Taman Nasional Lorentz Papua?

3

SUKAQQ – Wahyu Sunyoto, Praktisi Eksplorasi dan Pertambangan Mineral Berharga dan Logam Dasar menceritakan pengalamannya saat mengelilingi 2,5 juta hektare areal hutan di kawasan Timika, Papua dari atas udara. Pada periode 1989-1994, Wahyu bekerja melakukan survei udara untuk membuat peta geologi di wilayah konsesi PT. Freeport Indonesia.

468x60

Kala itu dia masih berusia 31-32 tahun. Wahyu menjadi bagian dari Tim Divisi Eksplorasi PT Freeport Indonesia. Dia bersama 12 orang lainnya secara berkelanjutan melakukan survei aeromagnetic atau survei membuat peta geologi dengan menggunakan pesawat atau helikopter.

2

Wahyu dan tim turun langsung ke lapangan guna memeriksa bebatuan. Daerah yang menjadi sasaran salah satunya sungai. Pasalnya apabila sebuah gunung atau bukit memiliki cadangan emas, maka logam berharga tersebut akan terbawa ke aliran sungai. Batu-batu inilah yang kemudian dikumpulkan dan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa kadungannya.

BACA JUGA : Kebijakan Jokowi Yang Membuat Singapura Pusing dan Akan Terancam Krisis

Dari hasil survei, tim ini menemukan beberapa titik sebaran intrusi atau batuan beku yang berpotensi mengandung mineral. Intrusi ini di antaranya tersebar di beberapa wilayah Ilaga, yang berjarak antara 16 hingga 60 kilometer dari kawasan tambang Grasberg yang dikelola Freeport. Freeport membuat peta geologi untuk mengetahui potensi di wilayah konsesi.

Sesuai perjanjian kontrak karya, Freeport secara bertahap melepaskan konsesinya. Setelah membuat pemetaan, Freeport melepaskan daerah yang dianggap kurang menguntungkan.

Freeport yang pada masa awal kontrak karya 1967 memiliki wilayah konsesi seluas 2,5 juta hektare, kini menguranginya menjadi 212 ribu hektare. Pengurangan luas tersebut secara otomatis mengurangi beban Freeport atas pajak wilayah konsesi.

Potensi mineralisasi di Papua sangat besar!

1

Budi Santoso, Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss)‎ mengatakan bahwa pada 1990-an kalangan ilmuwan pertambangan dan geologi pernah menyebutkan adanya potensi mineralisasi di wilayah dekat pertambangan Freeport.

Namun perbincangan tersebut tiba-tiba terhenti karena pada saat bersamaan muncul desakan dari aktivis lingkungan untuk menjadikan wilayah itu sebagai kawasan konservasi. Pada 1997, kawasan tersebut ditetapkan sebagai Taman Nasional Lorentz, termasuk di dalamnya tiga titik intrusi yang memiliki potensi mineralisasi.

Seperti apa Taman Nasional Lorentz?

Taman Nasional itu menjadi kawasan lindung terbesar di Asia Tenggara, membentang dari puncak Pegunungan Jayawijaya berselimut salju dengan ketinggian 5.030 meter di bawah permukaan laut, hingga membujur ke batas tepi perairan Laut Arafuru.

Nama Lorentz diambil dari nama penjelajah asal Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz, yang pernah mengunjungi daerah tersebut pada 1909. Selain keanekaragaman hayati, kawasan hutan lindung tersebut juga menjadi tempat kehidupan sembilan suku asli Papua.

Menurut mantan Dirjen Mineral, Simon Sembiring, kawasan Taman Lorentz merupakan kawasan tundra yang mirip dengan wilayah Grasberg. Simon juga menyatakan kemungkinan tersimpan potensi mineralisasi termasuk emas dan tembaga. Hal ini tidak mustahil mengingat pulau Papua secara keseluruhan memang terbukti memiliki kekayaan mineral yang sangat luar biasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s