5 Film Indonesia Termahal Yang Sayangnya Gak Balik Modal

5-Film-Indonesia-Termahal-Yang-Sayangnya-Gak-Balik-Modal

Banyak yang bilang alesan penonton film Indonesia sepi adalah karena film Indonesia digarap gak niat, gak kayak film Hollywood yang berani ngeluarin duit banyak. Ada anggapan kalau film mahal berbanding lurus dengan kualitas film. Banyak juga film Indonesia yang udah dibikin mahal-mahal tapi toh ternyata gak ditonton banyak orang karena mengecewakan.

Ini dia film yang udah dibikin capek-capek dan mahal-mahal tapi tetep gak ada yang nonton:

468x60

1. Trilogi Merdeka

darah-garuda

Salah satu film perang paling ambisius yang pernah dibuat di Indonesia. Sebuah trilogi yang konon kabarnya menghabiskan 64 miliar rupiah. Duit segini banyak katanya sih dihabisin buat bikin spesial efek yang dilakukan oleh tim ahli efek spesial dan ahli teknis film dengan pengalaman dalam pembuatan film Hollywood, serta kegiatan promosi ke sejumlah negara di luar negeri.

Dengan duit sebanyak itu dan dukungan pekerja Hollywood, sayangnya dari ketiga film tersebut gak ada yang nyampe 1 juta penonton*. Film pertama Merah Putih tembus 611.572 penonton, film kedua Darah Garuda cuma 407.426, sedangkan Hati Merdeka gak sampe 400 ribuan malah.

(*Data diambil dari filmindonesia.org)

2. Gunung Emas Almayer

film-gunung-emas-almayer-640x533

Ada gak yang nonton film ini? Gunung Emas Almayer adalah satu lagi proyek ambisius dari produser Trilogi Merdeka. Kali ini Media Desa Indonesia gak sendirian karena ngegandeng perusahaan Malaysia untuk ngebantu ngedanai. Proyek lintas negara ini disutradarai U-Wei Bin Haji Saari, dengan aktor dan aktris dari tiga negara; Australia (Peter O’Brien), Malaysia (Sofia Jane, Adi Putra, Diana Danielle), dan Indonesia (Alex Komang, El Manik, Rahayu Saraswati).

Mahalnya biaya produksi karena latar tempat dan kostum disetting sedemikian rupa menyerupai kehidupan di sekitar hutan Malaka tahun 1830. Menggambarkan pemukiman di pinggir sungai dengan perahu yang lalu lalang sebagai transportasi.

Meskipun film ini udah grand, tetep aja di bioskop adem ayem aja. Dengan target 1,5 juta penonton film ini ternyata tidak terlalu berprestasi, bahkan saking sepinya film ini tak masuk daftar 10 besar film terlaris di tahun 2014.

3. Pendekar Tongkat Emas

pendekartongkatemas

Sutradaranya keren. Produsernya hebat. Empat bintangnya adalah yang terbaik di Indonesia. Biaya yang dihabiskan untuk ngebikin? 25 Miliar. Pendekar Tongkat Emas mengambil lokasi eksotik Indonesia untuk memaksimalkan ceritanya.

Pendekar Tongkat Emas (dipasarkan sebagai The Golden Cane Warrior di pasar internasional) merupakan film Indonesia tahun 2014 yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film laga ini dibintangi oleh sederet bintang papan atas Indonesia, seperti Christine Hakim, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, dan Slamet Rahardjo. Eva Celia dan Tara Basro, dua bintang muda yang sedang naik daun, juga ikut berperan sebagai lakon utama. Film ini mengangkat tema persilatan[3] yang sudah lama tidak menghiasi perfilman Indonesia. Mengeksplorasi tema-tema seperti pengkhianatan, kesetiaan, dan ambisi, film ini dirilis pada 18 Desember 2014 oleh Miles Films.

Sayangnya dengan promosi yang cukup gencar, tetep aja gak balik modal juga film ini. PTE gak masuk 10 besar film paling laris tahun lalu. Padahal secara filmis, PTE pantas mendapatkan lebih banyak penonton.

4. Di Bawah Lindungan Ka’bah

Di-bawah-Lindungan-Ka’bah-By-Sobat-Fauza

Di Bawah Lindungan Ka’bah adalah novel sekaligus karya sastra klasik Indonesia yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan Hamka. Novel ini diterbitkan pada tahun 1938 oleh Balai Pustaka, penerbit nasional Hindia Belanda

Dengan kesuksesan film Ayat Ayat Cinta, banyak film religi romantis kemudian dibuat. Salah satunya yang diharapkan bisa mengulangi kesuksesan yang sama adalah film Di Bawah Lindungan Ka’bah. Secara materi, ceritanya berkualitas karena disadur dari karya Buya Hamka. Bintangnya pun adalah bintang film yang cukup dikenal.

Budget 25 miliar yang dikeluarkan sayangnya tetap tidak sebanding dengan penonton yang datang ke bioskop. Pendapatannya diperkirakan hanya sekitar 8 miliaran. Tentunya sebuah kerugian.

5. Street Society

streetsociety

Society merupakan film Indonesia bergenre aksi otomotif yang dirilis pada tahun 2014, distribusikan oleh Ewis Pictures dan disutradarai oleh Awi Suryadi dengan Marcel Chandrawinata sebagai pemeran utamanya.

Film balap-balapan ini bisa dibilang cukup seru dan punya twist yang memorable. Untuk mencapainya, pembuat film gak tanggung-tanggung ngeluarin duit. Total 18 miliar keluar. Kebanyakan dipake untuk pemakaian mobil.

Meski begitu, premis yang menarik, bintang film yang terkenal dan mobil yang mengkilap gak menjadikan film ini berhasil. Film ini tetep gak masuk 10 besar film terlaris. Sedih sekali.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari semua nasib film ini? Seringkali penonton Indonesia gak bisa ditebak. Udah niat bikin film, eh tetep gak ditonton juga. Skeptis boleh, tapi kalo kamu gak memberikan kesempatan buat film Indonesia, ya suatu hari nanti mungkin perfilman Indonesia bisa mati. Dari sekarang yuk dukung film Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s